Arsip Blog

Jumat, 07 Desember 2018

Belajar itu seumur hidup

Karena apa ...?


03 Desember 2018

Setelah berakhirnya kelas Blogging Online, saya iseng-iseng berpikir " Kenapa ya mau nulis di Blogger ?" Kenapa ya, ya kenapa coba ?. Entahlah.


     Sehari berlalu, dan disela banyaknya pekerjaan saya kembali teringat pertanyaan hari sebelumnya "Kenapa ya mau nulis di Blogger ?" Saat itu terlintas dalam ingatan saya percakapan saya dengan seorang Blogger keren beberapa waktu sebelum saya terdaftar di grup whatsapp Blogging Online.

     Oh ya ya ya ya, bermula dari iseng bertanya tentang pengalaman Blogger keren (panggil saja dia dengan nama kerennya ya, Kak Anazkia) tersebut hingga akhirnya masih dalam keisengan bertanya lagi tentang "ada nggak sih kelasnya untuk belajar Ka ?" Dan saat beliau berkata "ada"  dan  bahwa kelas untuk belajarnya itu online, menarik nih sepertinya, pikir saya.

      Bergabunglah seorang amatir yang tidak mengerti apapun tentang yang namanya Blogger.


Kamis, 29 November 2018

Hanya makan ?

Makan dan makan


Makan merupakan kebutuhan dasar manusia, bahkan ada yang bilang bawa hidup untuk makan. Benarkah, hidup untuk makan ? Mari kita lihat dulu bahwa definisi  makan adalah  memasukkan makanan pokok ke dalam mulut serta mengunyah dan menelannya, sehingga berguna bagi kesehatan dan penunjang aktivitas setiap harinya.

Nah, ini dia yang penting kata "memasukkan makanan" entah itu makanan pokok ataupun makanan pembuka, penutup dan makanan ringan. Saya coba untuk membedakan bahwa makanan pokok yaitu makanan yang harus mengandung karbohidrat, vitamin, lemak nabati, protein juga mineral. Pembagian  makanan lainnya hanyalah untuk mendukung  kebutuhan pokok manusia.



Seperti contoh makanan yang saya posting ini. Dibuat oleh keluarga saya, dan bisa dilihat bahwa sambal pete itu begitu menggoda. Bukan hanya karena tehnik pengambilan gambar, melainkan memang sambal pete tersebut memiliki rasa yang menggoda lidah. Saat nasi hangat bercampur dengan pedasnya sambal dan getirnya pete. Wah... nikmatnya mengalahkan masalah yang sedang dihadapai hahahaaha. Terlebih yang namanya dibuat keluarga pastilah bumbu utamanya adalah "kasih sayang"  Rindu masakan berasa "kasih sayang" pulanglah ke rumahmu.


  

Zaman sekarang, makanan bukan hanya masalah memasukan  sesuatu ke dalam mulut. Mengapa demikian ? 
Hal tersebut dikarenakan di tahun 2018 ini makanan adalah seni menata masakan, seni memotret, info bagi sesama hingga kepuasan mata. Bukankah demikian....? Ketika saya melihat makanan maka yang ada dalam benak saya tidak hanya melihat rupa makanan lebih dari itu, rasa makanan menjadi yang terutama bukan ?

Ini dia saya perkenalkan "Garang asem alam Sunda" lain kali kalau kalian ke daerah Bandung infoin deh, bisa janjian dan kita makan bareng "Garang asem" ini. Rasanya itu hmmmmmmm.
  1. Rasa kuahnya itu kaldu banget, ditambah dengan rawit domba dan belimbing wuluhnya membuat rasa kaldunya menjadi pedas gurih. Parah ini sih enak banget.
  2. Ayamnya empuk, enak banget.
  3. Wangi daun pisangnya membuat rasa Garang asam ini menjadi lebih garang.
  4. Resep coming soon okay pemirsa :)



Jenis makanan 

Begitu banyak jenis makanan yang ada di negeri kita Indonesia. Makanan yang rasanya bercampur antara asin manis asam ataupun manis saja, asam saja, pahit saja, wah banyak sekali rasa  yang tersedia di Indonesia.

                                          

Nah kalau foto yang diatas itu adalah "Pampis" apaan tuh ? Pampis adalah masakan dari Manado dimana memadukan antara sambal dan ikan cakalang asap. Jangan kuatir bahwa cakalang asap ini bisa diganti juga dengan ikan tongkol biasa. Bedanya, kalau menggunakan cakalang asap rasanya akan lebih enak karena ada aroma bakaran hmmmmmm.

Senin, 26 November 2018

Patriot Pembangun Bangsa Insan Cendikia

Patriot Bangsa

Hari Guru Nasional Indonesia 2018


Lama berlalu, kembali saya teringat masa dimana belajar membaca. Kisah masa kecil saat saya berusia 6 tahun, kelas 1 SD. Syukurlah bahwa di tahun 1988 ketika seorang anak duduk di kelas 1 Sekolah Dasar, ia barulah akan diajar membaca. Berbeda dengan zaman sekarang ketika memasuki Sekolah Dasar seorang siswa setidaknya mampu untuk mengeja huruf dan berhitung hingga 100.

Ya, disebuah kelas setelah beberapa minggu berlalu. Semua siswa sudah mengenal dan mampu mengeja huruf menjadi kata. Hal yang paling tidak disukai adalah tes membaca ke depan kelas, jika salah maka akan didisiplinkan dnegan cara berdiri di depan kelas. Halloooooo…. siswa SD kelas 1 didisiplinkan dengan cara demikian (mungkin hal inilah yang membuat saya kuat dan tegar menghadapi sulitnya menerima ilmu hahahaha)

Ayo kamu maju, dengan deg-deg-an saya maju. “Baca baris ke tiga !” kata guru saya. 
“ Ini mama budi…” belum selesai membaca guru saya berkata lagi 
“mana huruf m…mana…kok bisa jadi mama. Dieja.!” 
Dengan taat sayapun mengeja “ I..n..I..ini.” “i..b..u...mama” “Stop!, mana huruf m. Itu I..b..u..ibu. Bukan mama. Ulangi”
Masih teringat guru tersebut berusaha untuk supaya saya mengeja dan menyambung menjadi kata yang benar yaitu “I..b..u…ibu” sayangnya lagi - lagi saya berkata “i..b..u...mama.”
Guru kelas 1 saya hanya terdiam dan saya melanjutkan “ I..n..I..ini. i..bu...mama. ini..mama...Budi.” Lalu sang guru meminta muridnya duduk.

Tidak disangka ke esokan harinya ibu saya ikut mengantar ke sekolah (Hanya info teman bahwa sedari kelas 1 saya hanya 3 hari saja diantar ke sekolah, selebihnya saya berangkat sendiri. LOh kok bisa, nggak takut diculik, nggak takut ketabrak. Mungkin hal itu ada dibenak kalian ya kan ? Don’t be worry karena sekolah dan rumah saya tidak jauh. Hanya sekotar 2,5 - 3 KM saja (hahahahaah hmmm kalau anak sekarang maka akan berbeda, oh ya. Sekolah saya tidak dilewati angkutan umum secara langsung). Apakah ada yang tahu kenapa ibu saya ikut mengantar ke sekolah. Yes, anda benar. Orangtua saya dipanggil oleh walikelas. Penyebanya adalah : 

  1. Anak ibu berulangkali di tes membaca, ia tidak bisa membaca dengan baik dan benar.
  2. "Ibu, dibaca mama. Harimau, dibaca macan." 
  3. Mohon kerjasama orangtua untuk membantu anaknya membaca dengan benar.
Hari berlalu, malampun tiba. Seperti biasa kami sekeluarga berkumpul di sekitaran meja makan, sambil berbicara. Ibu sayapun berkata "Kak, tadi mama dipanggil ibu guru, dia bilang kakak nggak bisa meng-eja dengan benar" "Hmmmmmmm, yang mana mam ?" pura-pura tidak paham. Ibu sayapun menjelaskan dengan rinci. 
  • "Pertama, ibu guru bilang kamu nggak bisa mengeja dengan baik dan benar"
  • "Ibu guru juga bilang kakak kalo baca ibu jadi mama, kenapa sih bisa gitu ?" Sayapun menjawab "mama bukannnya sama dengan ibu ? kenapa harus salahin?" Ibu saya berkata lagi " Ia bener ibu sama dengan mama, tapi hurufnya kan beda ka?" Saya hanya terdiam. 
  • "Harimau sama macan,itu kan hurufnya beda ka. Tolonglah baca yang bener." Sayapun bilang "Mam, harimau sama macan apa bedanya ? ibu sama mama, apa bedanya"
Saat itu saya tidak paham mengapa hal tersebut salah. Sampai sekarangpun saya masih mentertawakan keanehan ini. Aneh tapi konyol, bukan gurunya loh ya. Tapi sayanya hahhahaaha. Speechless saya.
Waktu berlalu, ibu sayapun jarang sekali menjelaskan pelajaran dikarenakan kesibukan menjaga dan merawat kedua adik lelaki saya. Belajar mandiri sedari SD, hmmmmmm bersyukurlah kalian hey anak masa kini yang orangtuanya sangat memperhatikan kualitas pendidikanmu.

Tidak dapat dipungkiri masa Sekolah Dasar adalah masa dimana saya belajar banyak hal selain membaca, menulis dan berhitung. Melainkan masa dimana sayapun harus belajar beradaptasi dengan banyak hal. 
"Tell me and i'll forget. Show me and i may remember. Involve me and i learn." Benjamin Franklin
Masa SD dilakui dengan kegembiraan seorang anak Sekolah Dasar. Ya belajar dan bermain. Saya tidak banyak ingat akan hal - hal buruk yang terjadi, mau tahu kenapa ? Karena saya tidak mau untuk mengingatnya, semua itu menyedihkan. Masa SD yang seharusnya menjadi hal yang membahagiakan, untuk masa Sekolah Dasar mari kita sepakati bahwa ceritanya cukup sampai disini. Mungkin lain waktu akan saya rinci bagaimana kehidupan SD membentuk saya (Semoga ada keinginan dan mampu menceritakan)

Jangan takut, berjalanlah.
Jangan ragu, tataplah kedepan.
Jangan malu, semua manusia sama.
By.Maya usia 15thn

Teringat guru-guru SMP saya, bagaimana mereka mendidik para siswa dengan disiplin. Nah, untuk  para siswa ataupun mahasiswa, bahkan manusia pada umumnya kata disiplin membuat pendengarnya menjadi sedikit merinding. Mengapa ? mungkin karena proses pembentukan seseorang itu menjadi seorang yang disiplin itu tidak mudah. Guru SMP saya melakukannya. Secara psikologi remaja usia 13 - 19 tahun adalah masa perubahan remaja secara emosional. Masa inilah masa dimana saya kehilangan figur orangtua dan keluarga.

Dengan tinggal bersama oma dan om tante serta sepupu, terdapat sebuah rasa dimana "saya gimana?" Orangtua saya tinggal cukup jauh sehingga sulit untuk berkomunikasi (nah, zaman saya 1990 hp belum ada, pager juga belum, telepon hanya ada dirumah-rumah dan telepon umum. Ada yang pernah lihat telepon umum, wah, seru tuh telepon umum. Dulu telepon umum itu ada no tlp darurat misal ke 107. Nah, karena keingintahuan yang berujung kepada keisengan maka no darurat ditekan dan hanya sekedar "halo..halo..halo...hahahahaaha" tutup. Demikian selanjutnya, norak ya.)


Kamis, 22 November 2018

Bagian 1

Pertamaku,



Hai semua !

Sewaktu saya berusia dibawah 6 tahun, cita-cita saya ingin menjadi seorang pilot. Kenapa ? karena pilot bisa terbang setinggi yang ia  mau. Lalu saya ingin menjadi seorang pramugari, dengan alasan yang sama, ingin bisa terbang kemanapun.  Dengan segala daya upaya ingin sekali menjadi seorang pilot atau pramugari dan kandas karena ternyata takdir berkata lain hahahahaha.

Karena faktor keluarga maka saya harus berjuang untuk tetap hidup, sekolah dan berbakti kepada orangtua. Hal itu menjadi penting bagi seorang anak yang beranjak remaja karena orangtuanya selalu berkata : 


Kunci sukses hanya dua. Pertama takut dan hormat kepada Tuhan. 
Kedua menghargai orangtua. ( sumber : ibu dan bapak saya)

Saat itu saya hanyalah  seorang remaja yang berusia sekitar 13 tahun, dengan segala cara berusaha agar bisa  tetap bersekolah. Melenyapkan segala ketakutan dan mencoba segala hal untuk bertahan. Beragam pekerjaan dilakukan sedari pulang sekolah hingga jam dimana remaja seusia saya  telah lelap tertidur dengan PR sekolah yang telah selesai.


Kehidupan memang menempa saya dengan keras, namun anehnya ada kekuatan yang membuat saya tidak hancur. Bertahan dan semakin kuat itulah yang terjadi.  Pendidikan di SMPpun diselesaikan dengan baik, SMApun menanti. Masa sulit SMP berlalu, tahap baru SMA memanggil.

Entah bagaimana mujizat Tuhan Sang Khalik itu selalu ada sehingga saya tidak pernah putus sekolah. Berbekal nasehat orangtua untuk berjuang melawan kerasnya kehidupan, sayapun tumbuh dengan semangat kerja keras dan pantang menyerah.

Saat SMA saya menghadapi banyak tantangan dan ketidakpastian hidup, pekerjaan  dan rutinitas saya hanyalah sekolah dan bekerja. Bersyukur bisa bergabung dalam beberapa organisasi sekolah saat itu.
Dengan pendidikan yang didapat, bisa dikatakan saya termasuk generasi dimana GURU di sekolah adalah seorang yang dihormati dan sosok yang disegani. Di satu sisi saya bersyukur memiliki guru yang bisa dikatakan cukup keras mendidik murid-muridnya. Bagaimana mereka mengajarkan sopan santun baik dalam bersikap maupun dalam berucap. Guru - guru tersebut tidak hanya keren mengajar namun mereka benar-benar menerapkan dalam keseharian mereka. Masih segar dalam ingatan saya tentang penggaris kayu yang patah berkali-kali karena mendisiplinkan siswa mereka. Orangtua yang menuntut anak-anak mereka untuk bertanggung jawab dan mandiri, alih-alih dibela ketika anak mereka dipukul oleh guru. Yang hidup ditahun 1990-an rasanya paham maksud saya, bahwa orangtua akan menambah menegur sang anak. Memalukan kata mereka. Sehingga dampak dari itu semua saya berusaha untuk tidak membuat sesuatu yang berdampak buruk (kenyataannya: sangat sulit direalisasikan hahahaahaha)

Hingga lulus SMA tidak ada cita-cita baru masih yang itu saja. Oh, bukan pilot or pramugari lagi ya. Tahu apa cita-cita saya ? hahahaaha kata orang cita-cita saya kurang jelas. Saya INGIN menjadi seorang yang SUKSES. Bukankah itu cita-cita ? Menjadi SUKSES.

Ta…da…. beberapa tahun kemudian sang anak remaja telah menyelesaikan kuliahnya. Ya tentu kuliah yang dimana orangtua yang berjanji, sang anak yang harus menepati. OH iya saya flashback deh ya. Dulu saat saya baru lahir, saya seorang bayi yang tidak bisa meminum ASI sodara-sodara, trus minum apa dong ? Inilah ibu saya bilang bahwa saya anak sapi, hanya karena saya harus minum susu formula. Kenapa begitu, karena ibu saya semasa hidupnya sering mengkonsumi obat lambung sehingga air susunyapun ter-kontaminasi obat yan gmengakibatkan anaknya tidak akan pernah bisa meminum ASI-nya. setiap 30 menit maka bagian perut saya membengkak karena tidak ada isinya (oh ada, ANGIN hahahaha) nah angin itulah yang membuat perut saya membesar setiap 30 menit.

Berdasarkan kisah orangtua saya bahwa akhirnya dokter berusaha membuat saya minum melalui mulut tidak bisa, hidung pun sulit. Ibu saya tidak tega melihat saya harus minum melalui telinga (ta..da gagal juga saudara-saudara). Terakhir melalui kaki, jika tidak bisa juga maka akan melalui kepala..OMG orangtua saya berdoa. Lalu bapak saya berjanji jika anak pertamanya berhasil hidup maka ia akan memberikan kehidupan anaknya untuk Tuhan. Singkat cerita sembuhlah sang bayi dan langsung diterbangkan ke pulau lain untuk tinggal bersama kakek dan neneknya.

Setelah lulus kuliah saya bekerja di sebuah gereja setelah itu mendapat tawaran untuk menjadi guru. GURU  saudara, GURU. Tidak pernah terlintas dalam benak saya untuk menjadi seorang guru. Namun itulah kenyataannya, saya menjadi seorang guru di salah satu Sekolah Swasta di kota Bandung. 

Bahagia itu saat bisa tertawa bersama
Tahun 2008 saya menerima tawaran menjadi seorang guru. Anehnya saya berkeinginan untuk bisa menjadi guru yang asik (asik ya bukan guru yang killer hahahaha). 




Guru memiliki makna yaitu guru adalah seorang yang  tugas utamnya mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik .

Mengajar seringkali disebut ibu dari segala profesi.

(Stinnett & Huggett/ Guru sebagai profesi)

All you can eat

Hanya makan ?

Makan dan makan Makan merupakan kebutuhan dasar manusia, bahkan ada yang bilang bawa hidup untuk makan. Benarkah, hidup untuk makan ? M...

356 Hari